PHK
Alasan PHK dan dampaknya ke hak
Pasal 154A UU Ketenagakerjaan jo. UU No. 6/2023 memuat alasan-alasan PHK. PP No. 35/2021 mengatur rincian hak untuk banyak alasan tersebut.
Kategori yang sering muncul:
Contoh alasan:
Sumber: Pasal 154A UU Ketenagakerjaan jo. UU No. 6/2023; Pasal 41-42 PP No. 35/2021.
Contoh alasan:
Setiap alasan punya konsekuensi hak yang berbeda. Jangan hanya menerima label "efisiensi"; minta dasar alasan dan pasalnya.
Sumber: Pasal 154A UU Ketenagakerjaan jo. UU No. 6/2023; Pasal 43-45 PP No. 35/2021.
PHK dapat terjadi karena perusahaan dalam penundaan kewajiban pembayaran utang atau pailit. Besaran haknya mengikuti Pasal 46-47 PP No. 35/2021.
Pekerja/buruh dapat mengajukan permohonan PHK jika pengusaha melakukan perbuatan tertentu, misalnya tidak membayar upah tepat waktu selama 3 bulan berturut-turut atau lebih, tidak melakukan kewajiban yang dijanjikan, atau memerintahkan pekerjaan di luar yang diperjanjikan.
Sumber: Pasal 154A ayat (1) huruf g UU Ketenagakerjaan jo. UU No. 6/2023.
PHK karena pelanggaran ketentuan perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama umumnya terkait surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga secara berturut-turut.
Untuk pelanggaran bersifat mendesak yang diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama, PP No. 35/2021 mengatur konsekuensi hak yang berbeda.
Sumber: Pasal 52 PP No. 35/2021.
Contoh alasan:
Hak untuk kondisi ini diatur lebih lanjut dalam PP No. 35/2021.
Sumber untuk penolakan: Pasal 39 PP No. 35/2021.